Pilkada 2020

Rabu, 4 Desember 2019 - 14:20 WIB

7 bulan yang lalu

logo

Ilustrasi

Ilustrasi

Hati – Hati Membaca Poling di Medsos

Floreseditorial.com, Ruteng – Perkembangan informasi teknologi yang pesat membuat media sosial diminati sebagai sarana untuk menyalurkan unek-unek dan gagasan.

Hasil studi YMP sampai November 2019 memperlihatkan bahwa pengguna media aktif di Kabupaten Manggarai mencapai 46.000 pengguna tersebar dalam beberapa jenis media mulai dari FB, WA, Twitteer, dan lainnya.

Sejak bulan Juli 2019 trafic mulai ramai, dan tercatat 11 poling yang terkait dengan pilkada dan 1 poling terkait survey kepuasan publik terhadap bupati dan wakil bupati incumbent.

Fakta lain juga terkait dengan maraknya kemunculan akunt-akunt anonim sampai dengan angka 10 porsen.

Disejumlah group FB, dan whasApp, sejumlah orang juga menyitir hasil poling di FB untuk menunjukkan kuatnya dukungan publik terhadap calon yang dia dukung, tanpa mempertimbangkan bandwagon effect atau menguntungkan pasangan lain.

Banyak pertanyaan yang muncul kemudian apakah hasil poling di media online itu bisa di percaya?

Merespon hal tersebut, Konsultan dan Peneliti senior pada YMP Jefrin Haryanto menjelaskan bahwa
Dalam survei, hal mendasar yang harus didefenisikan terlebih dahulu ialah siapa populasi yang akan diteliti, dan bagaimana proses pengambilan sampelnya.

“Lalu apakah sampelnya proporsional atau representatif? Defenisi terhadap populasi akan menjadi penting apakah hasil survei itu bisa menjadi rujukan atau dianggap valid untuk menjelaskan presepsi populasi atau tidak,” kata Jefrin.

Terkait dengan Pilkada Manggarai, kata Jefrin Haryanto, populasi survei tentu warga kabupaten manggarai yang ditandai dengan kepemilikan KTP. Sementara itu dalam proses pengambilan sampel, yang dimaksud sebagai populasi sasaran ialah warga kabupaten Manggarai yang mempunyai hak pilih dan berusi 17 tahun keatas atau sudah menikah ketika survei dilakukan.

“Lalu bagaimana dengan poling kita.com di FB saat ini? Dengan mengacu kekaidah ilmiah, jelas hasil poling FB tifak valid dan tidak bisa menjelaskan presepsi pemilih kabupaten manggarai. Kenapa?
Poling FB tidak mewakili populasi masyarakat manggarai, karena tidak teridentifikasi usia, KTP dan Jenis kelamin, dan pemilik akun tidak 100 porsen pemilih Kabupaten Manggarai,” tuturnya.

Selain itu, kata dia, poling di FB tidak mencerminkan proporsional pemilih, karena tidak mewakili distribusi pemilih Kabupaten Manggarai.

“Poling tidak mempresentasikan berdasarkan jenis kelamin dan usia dan hasil poling tidak bisa diregenerasi karena tidak menggunakan proses pengacakan,” tuturnya.

Pada bagian akhir wawancara ia menjelaskan bahwa para kandidat atau tim yang menjadi subyek poling cenderung menggerakan dan membagikan link poling ke orang- orang yang pasti memdukungnya.

“Sehingga bisa terlihat yang unggul adalah yang paling rajin membagikan linknya,” tutupnya.

Laporan : Andre Kornasen

Artikel ini telah dibaca 189 kali

Baca Lainnya
x